Jumat, Mei 29, 2015

MACHINERY ALIGNMENT & BALANCING

MACHINERY ALIGNMENT & BALANCING

Alignment & Balancing  pada mesin-mesin operasional produksi sangat diperlukan untuk menjaga kualitas hasil produksi,meningkatkan umur pakai (life time) & untuk reduce cost. Pemeliharaan atau perawatan mesin merupakan faktor penentu apakah performa mesin dalam keadaan  baik atau tidak untuk dioperasikan berdasarkan  jangka waktu yang telah ditentukan. Produksivitas mesin yang diinginkan tidak akan tercapai jika pemeliharaan mesin tidak diselenggarakan dengan terstruktur (dijadwalkan). Anda dapat memperpanjang  umur mesin dengan melakukan perawatan mesin terstruktur. Berikan perawatan pada mesin anda dengan condition monitoring sehingga meminimalisir biaya tidak terduga dan menghindari kemungkinan  terjadinya misalignment pada mesin.
Alignment adalah suatu pekerjaan atau proses mensimetriskan kedua objek atau sumbu poros sehingga sentris antara poros penggerak dengan sumbu poros yang digerakan dengan dua tumpuan saling berkaitan. Tetapi dalam kenyataannya pengertian lurus tidak bisa didapatkan 100% sehingga harus diberikan toleransi kurang dari 0,05 mm, untuk mendapatkan kesentrisan antara kedua poros pemutaran dan poros yang diputar hingga tidak menimbulkan gesekan, getaran, dan faktor-faktor lainnya.
Sedangkan Definis Balancing sendiri adalah suatu proses memperbaiki distribusi massa pada rotor yang berputar dengan menambahkan atau mengurangkan massa pada rotor yang bertujuan mengurangi gaya Centrifugal yang bekerja pada bantalan (bearing) yang nantinya akan menghasilkan keseimbangan yang baik pada rotor. Proses ini dilakukan dengan mesin balancing yang terdiri dari beberapa varian seperti High Speed Balancing Machine, Horizontal Balancing Machine, Vertical Balancing dan beberapa varian lain yang terbagi berdasarkan jenis, fungsi dan spesifikasi Balancing Machine
Untuk dapat melakukan balancing & alignment mesin atau peralatan dengan benar, maka sebagai operator & teknisi harus memahami benar bagaimana pondasi atau konstruksi mesin yang digunakan, karakter poros & bantalan, serta sistem & alur kerja peralatan tersebut. Kesalahan dalam balancing akan mempengaruhi kinerja mesin & kualitas hasil produksi (output) pada alat & dapat mengakibatkan kerusakan alat yg harus dihindari. Pentingnya cara pengoperasikan mesin untuk menjaga kesimetrisan dan kinerja mesin anda, mayoritas langkah - langkah pengoperasian mesin adalah memilih mesin sesuai kebutuhan perusahaan, setelah itu melakukan pemasangan atau perakitan mesin sesuai dengan standarisasi mutu mesin tersebut, maka mesin siap di operasikan. Standard Operating Procedure (standarisasi prosedur operasi mesin) dan check list (daftar data) harus dibuat agar langkahh-langkah  mengoperasikan terjaga, terstruktur, baik dan benar. Kesalahan langkah dalam pengoperasian mesin dapat berakibat pengikisan komponen pada mesin yang dapat menyebabkan kerusakan salah satu komponen pada mesin, bahkan dapat mengakibatkan kerusakan komponen mesin dan mesin lainnya yang terkait, kesalah langkah dalam pengoperasian mesin dapat menyebabkan kejadian-kejadian  yang tidak diinginkan terhadap sumber daya manusia yang berperan.

Outline :
1.            Introduction to Predictive maintenance & machinery monitoring
2.            Importance of Proper Alignment
·         Extended Seal Life
·         Extended Bearing Life
·         Smoother / Quieter Operation
·         Extended coupling life
3.            Types of alignment:
·         Straight Edge and Flash Light Method
·         Reverse Dial Indicator Method
·         Rim & Face Method (Double Dial Indicator)
·         Laser
4.            Preliminary Checks Before Starting Alignment
·         Baseplate
·         Shaft run-out and end-float
·         Existing shims
·         Inspect Couplings
5.            Alignment Checks
·         Factory pre-alignment
·         Alignment before grouting baseplate
·         After Grouting Baseplate
6.            Balancing basic theory
·         Types unbalance
·         Purpose balancing
·         Causes unbalancing
·         Units unbalance
·         Effect unbalance on rotational speed
7.            Balancing machine
·         Gravity machines
·         Centrifugal machines
·         Hard bearing machine
·         Testing balancing machine
8.            Balance tolerance and Field Balancing

Peserta :
Bagian Perawatan Mesin, Operator mesin, enjineering, teknisi,  maupun bagian dan devisi lain yang berkaitan dengan kestabilan dan keamanan pada mesin produksi


Jumat, Februari 06, 2015

BAHAN KIMIA BERBAHAYA DAN K3 BIDANG KIMIA



BAHAN KIMIA BERBAHAYA DAN K3 BIDANG KIMIA

Bahan berbahaya adalah bahan-bahan yang pembuatan, pengolahan, pengangkutan, penyimpanan dan penggunaanya menimbulkan atau membebaskan debu, kabut, uap, gas, serat, atau radiasi sehingga dapat menyebabkan iritasi, kebakaran, ledakan, korosi, keracunan dan bahaya lain dalam jumlah yang memungkinkan gangguan kesehatan bagi orang yang berhubungan langsung dengan bahan tersebut atau meyebabkan kerusakan pada barang-barang.
Penggunaan bahan kimia dalam kegiatan industri dapat menjadi potensi bahaya yang menimbulkan kecelakaan pada setiap tingkat pekerjaan dalam produksi (penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, pembuatan dan pembuangan) dengan resiko sesuai yang berbeda-beda sesuai dengan bahan kimia yang digunakan. Resiko yang ditimbulkan dari penggunaan bahan-bahan kimia beresiko (bahan beracun, bahan sangat beracun, cairan mudah terbakar, gas mudah terbakar, cairan sangat mudah terbakar, bahan mudah meledak, bahan reaktif, dan bahan oksidator) tersebut dapat berdampak pada industri, tenaga kerja, lingkungan, maupun sumber daya lainnya.
Dalam lingkungan kerja tersebut, banyak bahan kimia yang terpakai tiap harinya sehingga para pekerja terpapar bahaya dari bahan-bahan kimia itu. Bahaya itu terkadang meningkat dalam kondisi tertentu mengingat sifat bahan-bahan kimia itu, seperti mudah terbakar, beracun, dan sebagainya.  Dengan demikian, jelas bahwa bekerja dengan bahan-bahan kimia mengandung risiko bahaya, baik dalam proses, penyimpanan, transportasi, distribusi, dan penggunaannya. Akan tetapi, betapapun besarnya bahaya bahan-bahan kimia tersebut, penanganan yang benar akan dapat mengurangi atau menghilangkan risiko bahaya yang diakibatkannya.

Outline :
A. BAHAN KIMIA BERBAHAYA
1.      Penggunaan Bahan Kimia
2.      Klasifikasi Umum
-        Bahan Kimia Beracun (Toxic)
-        Bahan Kimia Korosif (Corrosive)
-        Bahan Kimia Mudah Terbakar (Flammable)
-        Bahan Kimia Peledak (Explosive)
-        Bahan Kimia Oksidator (Oxidation)
-        Bahan Kimia Reaktif Terhadap Air (Water Sensitive Substances)
-        Bahan Kimia Reaktif Terhadap Asam (Acid Sensitive Substances)
-        Gas Bertekanan (Compressed Gases)
-        Bahan Kimia Radioaktif (Radioactive Substances)
3.      Sistem Klasifikasi PBB
4.      Penyimpanan  Bahan Kimia Berbahaya
-        Bahan Kimia Beracun (Toxic)
-        Bahan Kimia Korosif (Corrosive)
-        Bahan Kimia Mudah Terbakar (Flammable)
-        Bahan Kimia Peledak (Explosive)
-        Bahan Kimia Oksidator (Oxidation)
-        Bahan Kimia Reaktif Terhadap Air (Water Sensitive Substances)
-        Bahan Kimia Reaktif Terhadap Asam (Acid Sensitive Substances)
-        Gas Bertekanan (Compressed Gases)
-        Bahan Kimia Radioaktif (Radioactive Substances)
5.      Lembar Data Bahaya / Chemical Safety Data Sheet (CSDSs)
-        Identifikasi produk dan pabrik
-        Bahan-bahan berbahaya
-        Data Fisik
-        Data Kebakaran Dan Ledakan
-        Data Reaktifitas
-        Data Bahaya Kesehatan
-        Tindakan Pencegahan Untuk Penanganan
-        Pengukuran Kontrol
6.      Pemasangan Label dan Tanda Pada Bahan Berbahaya
B. KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA BIDANG KIMIA
1.      Pengertian Keselamatan Kerja
2.      Pengertian Kesehatan Kerja
3.      Pengertian Kecelakaan Kerja
4.      Kebijakan Pemerintah Indonesia Dalam Menghadapi Bahan Kimia
5.      Undang-Undang Keselamatan Kerja Nomor 1 Tahun 1970

Peserta adalah para pekerja, teknisi, dan analis atau staf yang berkecimpung dalam penanganan dan pengelolaan bahan kimia, baik dalam proses industri, laboratorium, K-3 dan lingkungan, Badan Pemerintahan (seperti Badan Pengendalian Lingkungan Daerah), Environmental Manager, Maintenance Manager dan Legal Affair/Complaince Manager.



Sabtu, Januari 10, 2015

Penerapan Coiled Tubing dan penggunaan Wireline pada operasi Workover



Penerapan Coiled Tubing  dan penggunaan Wireline pada operasi Workover

Eksploitasi merupakan suatu kegiatan pengerjaan atau pengusahaan suatu sumber hidrokarbon untuk diproduksikan secara maksimal. Usaha untuk pengerjaan ini memerlukan keteknikan yang makin lama makin berkembang, salah satu diantaranya adalah teknologi coiled tubing. Coiled tubing dapat dipakai dalam operasi produksi, operasi pengeboran dan operasi kerja ulang. Coiled tubing adalah suatu tubing yang dapat digulung dan bersifat plastis, terbuat dari bahan baja yang continue (tidak bersambung). Peralatan dipermukaan coiled tubing tidak tidak memerlukan lahan yang luas untuk operasinya. Kelebihan-kelebihan dari coiled tubing tersebut dapat menjadi pilihan teknologi yang diharapkan dalam aplikasi terhadap operasi dilapangan.
Wireline unit adalah bagian yang tak terpisahkan dari suatu operasi work over dan complesi sumur (well service). Penggunaan wireline ini sangat ekonomis bila dibandingkan dengan metoda yang digunakan pada masa sebelumnya. Operasi-operasi utama workover pasti memerlukan peng-gunaan wireline. Penggunaan wireline termasuk diantaranya dalam op­erasi completion, pemasangan peralatan-peralatan bawah permukaan, pembersihan parafin, pasir dan scale dalam tubing, operasi perforasi, loging dan sebagainya. Dalam hal ini biasanya wireline equipment tersebut berfungsi berdasarkan prinsip mekanis dan dioperasikan dengan manipulasi ‘tarik’ dan ulur’ oleh operator wireline di permukaan. Dengan adanya workover diharapkan terjadi peningkatan produksi minyak (production gain) bagi sumur-sumur yang mempunyai potensi untuk ditingkatkan kapasitas produksinya. Pekerjaan-pekerjaan kerja ulang yang dapat dilakukan dengan Coiled Tubing yang akan dibahas disini meliputi pekerjaan fill removal, matrik stimulation, squeeze cementing, logging, dan operasi fishing.

Objectives :
1.      Memahami sebab-sebab penurunan produksi sumur minyak
2.      Memahami kriteria dan pelaksanaan operasi workover.
3.      Memahami ruang lingkup dan peranan coiled tubing.
4.      Memahami proses kerja ulang dengan coiled tubing.

Course Outline :
A. Dasar-dasar kerja ulang/work over
  1. Faktor-faktor penyebab kehilangan produksi :
-        Problem Reservoir
-        Problem mekanikal
  1. Macam-macam Perawatan sumur :
-        Kerusakan Peralatan
-        Masalah Parafin
-        Pengendapan Scale dan Pengontrolannya
-        Masalah Pasir
-        Kerusakan Formasi
  1. Tipe-tipe Pengerjaan Kerja Ulang Sumur :
-        Mengubah Zona Produksi
-        Perangsangan Sumur (Well Stimulation)
-        Squeeze Cementing
  1. Peralatan Kerja Ulang :
-        Menara (Rig)
-        Unit Wireline
-        Gulungan Tubing Tanpa Sambungan (Endless Tubing Coil)
-        Unit Snubbing

B.  Dasar-dasar Coiled Tubing
1.      Ruang lingkup dan peranan coiled tubing completion
2.      Komponen dalam tubing completion
a.      Peralatan di atas permukaan
b.      Peralatan di bawah permukaan
3.      Circulation with coiled tubing completion
4.      Pumping with coiled tubing completion
5.      Production coiled tubing completion

C. Dasar-dasar Wireline
1.      Fungsi Wireline
2.      Penggunaan wireline secara umum
3.      Jenis-Jenis Unit Wireline
4.      Special Unit. 

D. Proses kerja ulang dengan coiled tubing completion
1.      Operasi Fill Removal
2.      Operasi Matrix Stimulation
3.      Operasi Logging
4.      Operasi Pemancingan

Peserta :

Operator produksi industri oil dan gas, Drilling Workover personnel engineer, Logistic Personnel departemen utilitas, departemen maintenance dan semua pihak yang terlibat dalam industri minyak dan gas yang berkaitan dengan pekerjaan produksi.